Pendidikan Kehidupan Keluarga

Pendidikan Kehidupan Keluarga

Makalah
KOMUNIKASI RUH-NYA KELUARGA: PENGARUH KOMUNIKASI
TERHADAP PEMBENTUKAN PRIBADI ANAK
Disusun guna memenuhi tugas matakuliah
“Pendidikan Kehidupan Keluarga”
Semester genap/IV

Dosen pembimbing: Dra. Misgiati, S.Pd., M.Pd.

Perumus :
Faidi Rahman
2091000220018

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU EKSAKTA DAN KEOLAHRAGAAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
BUDI UTOMO MALANG
Juni 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat-NYA serta telah memberikan kekuatan berfikir dan senantiasa memberikan kesejukan berupa nikmatnya untuk menjalani kehidupan yang penuh problematika, dan penuh tantangan ini.
Sholawat serta salam mudah-mudahan selalu tercurah limpahkan kepada junjungan kita, Sang Revolusioner Islam Nabi Besar Muhammad SAW. yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Sejenak kami haturkan terima kasih kepada Ibu Dra. Misgiati, S.Pd., M.Pd. yang telah sudi membimbing kami dalam perkelanaan menuntut ilmu. Tugas makalah individu ini yang berjudul “Komunikasi Ruh-nya Keluarga: Pengaruh Komunikasi Terhadap Pembentukan Pribadi Anak” merupakan pembelajaran dimana saya nanti akan dihadapkan untuk bisa mengarungi bahtera rumah tangga yang Insya Allah sesuai dengan ridha-Nya.
Tak lupa kepada teman-teman senasib seperjuangan yang telah memberikan dukungannya untuk menyelesaikan tugas makalah ini. Demi kesempurnaan makalah selanjutnya saya mengharap kritik yang konstruktif yang tentunya lebih baik. Dan mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amien….!

Malang, 13 Juni 2011
Faidi Rahman

Daftar Isi

Cover
KATA PENGANTAR
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Membangun Komunikasi Dalam Keluarga
2.2. Kurangnya Pemahaman Tentang Pentingnya Komunikasi
2.3. Akibat Terhadap Pembentukan Pribadi Anak
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
Daftar Rujukan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap insan pasti akan menghadapi dan mengalami yang namanya pernikahan, yakni persekutuan yang khas antara laki-laki dan perempuan dimana mereka akan saling mengisi dan menyempurnakan, sehingga mereka bisa membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah sesuai dengan yang dianjurkan Rasulullah SAW. Tujuan itu tentu harus di wujudkan bersama untuk melanjutkan dinasti yang oleh nenek moyang mereka jaga kelestariannya, melalui pernikahan yang dilakukan berdasarkan syari’at dan hukum yang berlaku serta menjalankan kehidupan keluarga sesuai dengan norma yang berlaku pula.
Tentu sudah kita sadari semua, dalam hidup berkeluarga tidak semudah membalikkan sebuah telapak tangan. Cobaan, tantangan, dan kesulitan akan muncul bertubi-tubi, baik dari dalam maupun dari luar keluarga. Namun, semua itu bukan untuk dihindari tapi dihadapi dengan penuh kesabaran, kedewasaan, dan kebijaksanaan semua pihak: suami dan istri. Jadi, suami dan istri sebagai aktor utama yang memegang peranan penting dalam rumah tangga dituntut untuk bisa memutus rantai permasalahan yang terjadi demi meraih cita-cita yang diimpikan bersama.
Dengan munculnya berbagai permasalahan yang pasti terjadi dalam keluarga, banyak kalangan yang meneliti cara mencegah dan menghadapinya yang kemudian mereka rumuskan dalam berbagai teori-teori. Ada beberapa teori yang berhasil menjinakkan permasalahan dalam keluarga tapi juga ada teori yang malah membuat keluarga semakin berantakan, kacau balau, dan amburadul yang ending-nya melahirkan sebuah kata “cerai”. Naudzubillah.
Untuk itu, teori-teori yang ditawarkan oleh beberapa ahli bukan merupakan sebuah jalan keluar yang akan meloloskan dari cengkeraman badai permasalahan keluarga. Karena, setiap keluarga mempunyai individu-individu yang dihiasi dengan karakter, budaya serta latar belakang yang berbeda. Maka perlu pendekatan dan cara penyelesaian masalah yang berbeda pula.
Terkadang, demi menghindari buasnya permasalahan yang akan dihadapi, banyak penikmat pernikahan (baca: calon penikah) mempersiapkan terlebih dahulu apa-apa yang dibutuhkan dalam mengarungi bahtera rumah tangga seperti persiapan moral dan spiritual, persiapan konsepsional, persiapan fisik, persiapan finansial, dan persiapan sosial serta cara pemecahannya juga dipelajari yang oleh penulis sempat singgung pada tugas makalah kelompok beberapa waktu lalu. Namun, semua itu hambar rasanya jika tidak dibarengi dengan komunikasi yang baik. Ya, menurut penulis “komunikasi” merupakan jurus yang paling ampuh dan mujarab dalam mengobati virus-virus yang muncul dalam keluarga.
Percuma rasanya jika para calon penikah hanya belajar seperti yang telah dijelaskan diatas, apabila dalam mengkomunikasikan kepada pasangannya salah. Yang perlu diucapkan tidak diucapkan dan yang tidak perlu diucapkan malah diucapkan atau biasa kita sebut dengan diss-komunikasi. Ada juga dua sejoli yang hidup dalam rumah tangga tidak mau mengkomunikasikan permasalahan yang terjadi kepada pasangan. Mereka memilih diam dan merahasiakannya dibanding di komunikasikan kepada pasangan karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebenarnya, permasalahan apapun itu jika dibicarakan dengan baik akan melahirkan keputusan yang Insya Allah baik pula.
Ironisnya lagi, banyak anggota keluarga menganggap permasalahan yang muncul dalam keluarga seperti masalah perselingkuhan, ketidak cocokan antar pasangan, kesejahteraan yang tidak tercukupi serta masalah-masalah yang lain, itu dianggap sebagai masalah utama. Jika kita telisik lebih jauh lagi permasalahan itu muncul karena kurangnya komunikasi atau tidak adanya komunikasi yang baik dalam keluarga.
Oleh karena itu, tidak adanya komunikasi merupakan gejala utama munculnya berbagai permasalahan dalam keluarga. Maka, cara meredam gemuruh diss-komunikasi yang setiap saat akan menyambar keutuhan keluarga yakni perlunya komunikasi yang intens dan harus berjalan dengan lancar, se-lancar laju kendaraan dijalan tol. Maka, penulis menyimpulkan bahwa, “komunikasi” adalah ruh-nya keluarga.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana membangun komunikasi yang baik dalam keluarga?
2. Bagaimana dampak kurangnya pemahaman tentang pentingnya komunikasi?
3. Apa akibatnya terhadap pembentukan pribadi anak?
1.3. Tujuan Masalah
1. Mengetahui cara berkomunikasi yang baik dengan pasangan;
2. Adanya keterbukaan dalam keluarga untuk menghindari efek dari tidak terjalinnya komunikasi; dan
3. Membentuk pribadi yang baik pada anak melalui komunikasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Membangun Komunikasi dalam Keluarga
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial, dalam interaksi dengan kelompoknya. (Kurniadi, 2001: 271). Dalam keluarga yang sesungguhnya, komunikasi merupakan sesuatu yang harus dibina, sehingga anggota keluarga merasakan ikatan yang dalam serta saling membutuhkan. Keluarga merupakan kelompok primer paling penting dalam masyarakat, yang terbentuk dari hubungan laki-laki dan perempuan, perhubungan ini yang paling sedikit berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak. Keluarga dalam bentuk yang murni merupakan kesatuan sosial yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. (Murdok 1949 dikutip oleh Dloyana, 1995: 11).
Menurut Rae Sedwig (1985), Komunikasi Keluarga adalah suatu pengorganisasian yang menggunakan kata-kata, sikap tubuh (gesture), intonasi suara, tindakan untuk menciptakan harapan image, ungkapan perasaan serta saling membagi pengertian (Dikutip dari Achdiat, 1997: 30)
Dilihat dari pengertian di atas bahwa kata-kata, sikap tubuh, intonasi suara dan tindakan, mengandung maksud mengajarkan, mempengaruhi dan memberikan pengertian. Sedangkan tujuan pokok dari komunikasi ini adalah memprakarsai dan memelihara interaksi antara satu anggota dengan anggota lainnya sehingga tercipta komunikasi yang efektif. Komunikasi dalam keluarga juga dapat diartikan sebagai kesiapan membicarakan dengan terbuka setiap hal dalam keluarga baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, juga siap menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga dengan pembicaraan yang dijalani dalam kesabaran dan kejujuran serta keterbukaan (Friendly: 2002; 1)
Terlihat dengan jelas bahwa dalam keluarga adalah pasti membicarakan hal-hal yang terjadi pada setiap individu, komunikasi yang dijalin merupakan komunikasi yang dapat memberikan suatu hal yang dapat diberikan kepada setiap anggota keluarga lainnya. Dengan adanya komunikasi, permasalahan yang terjadi diantara anggota keluarga dapat dibicarakan dengan mengambil solusi terbaik.
Komunikasi dalam keluarga adalah bentuk komunikasi yang paling ideal. Karena hirarki antara orang tua dan anak ada tapi tidak menyebabkan formalitas komunikasi di antara mereka. Perbedaan latar belakang budaya, pendidikan, usia, kebiasaan dan kepribadian antar anggota keluarga khususnya suami istri tidak menjadi penghalang untuk berkomunikasi. Sejak sepasang insan menikah, komunikasi dua keluarga besar dimulai secara intensif. Modal mereka tidak hanya kasih tapi juga platform yang sama, berdasarkan janji nikah. Namun demikian realitasnya masalah komunikasi banyak terjadi dalam keluarga bahkan sebagian besar masalah keluarga disebabkan terganggunya komunikasi.
Komunikasi dalam keluarga, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks : bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Tetapi saat ini kualitas interaksi dalam keluarga modern dewasa ini cenderung menurun. Masing-masing anggota keluarga memiliki kesibukannya masing-masing. Akhirnya, komunikasi yang tercipta di dalam keluarga, adalah komunikasi yang sifatnya informatif dan superfisial (hanya sebatas permukaan).
Agar komunikasi dalam keluarga terjalin, diperlukan usaha-usaha tertentu:
– Membina dan memupuk komunikasi dalam keluarga
Meluangkan waktu untuk saling mengungkapkan isi hati atau kekesalan yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.
– Menciptakan suasana harmonis dalam keluarga
Hal ini dapat dilakukan apabila setiap anggota keluarga menyadari dan menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing dan menikmati haknya sebagai anggota keluarga.
Proses Komunikasi dalam Keluarga
Dari pengertian komunikasi keluarga di atas, tampak adanya sejumlah unsur atau komponen yang dicakup yang merupakan persyaratan dalam proses terjadinya komunikasi. Dalam bahasa komunikasi komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut :
a. Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan
b. Pesan, yaitu pernyataan yang didukung oleh lambang
c. Komunikan, adalah orang yang menerima pesan
d. Media, yaitu sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya
e. Efek, yaitu dampak sebagai pengaruh dari pesan.
Ada dua cara untuk mengkomunikasikan sesuatu yaitu dengan komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata, baik yang dinyatakan secara lisan atau tulisan, komunikasi verbal merupakan karakteristik khusus dari manusia. Tidak ada makhluk lain yang dapat menyampaikan bermacam-macam arti melalui kata-kata, kata-kata dapat dimanipulasi untuk menyampaiakan secara eksplisit sejumlah arti.
Sedangkan komunikasi non verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata seperti komunikasi yang menggunakan gerakan tubuh, sikap tubuh, vokal yang bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan. Dengan komunikasi non verbal orang dapat mengekspresikan perasaannya melalui ekspresi wajah dan nada atau kecepatan berbicara. Kadang-kadang komunikasi non verbal lebih efektif untuk mengungkapkan perasaan.
2.2. Kurangnya Pemahaman tentang Pentingnya Komunikasi
Beberapa masalah yang sangat menonjol dalam komunikasi keluarga:
1. Kepercayaan bahwa anggota keluarga pasti sudah saling sepaham dan trampil berkomunikasi.
Pemahaman yang seperti ini mengakibatkan komunikasi keluarga tidak dianggap serius untuk dibina dengan baik. Secara rutin memang sudah berkomunikasi tetapi lama kelamaan tidak lagi melibatkan jati dirinya dengan sepenuh perasaan dan kemauannya. Ini yang disebut komunikasi tanpa ‘hati’ atau komunikasi sebagai formalitas belaka. Antar anggota keluarga ada pembicaraan tapi hati mereka ‘jauh’. Pada umumnya hal ini disebabkan adanya masalah pribadi yang tidak terselesaikan tapi dipaksa oleh kondisi sebagai satu keluarga di bawah satu atap maka komunikasi tapi dipaksa sebagai basa basi. Komunikasi dalam keluarga harus diupayakan untuk terus dipelihara kehangatannya.
2. Komunikasi antar pribadi telah digantikan dengan alat hiburan yang menyita waktu untuk berkomunikasi.
Sebagaimana kita sadari rumah kita telah dipenuhi dengan berbagai alat hiburan yang membantu kita menghilangkan lelah dan capai setelah seharian penuh bekerja atau sekolah. Karena itu waktu yang tersisa di dalam rumah cenderung kita pakai untuk nonton, baca, olah raga, dan main musik atau masak daripada bicara satu sama lain. Sekarang ada kecenderungan anggapan bahwa omong-omong itu menghabiskan waktu dan menimbulkan kesalahpahaman. Sebenarnya menghilangkan kesalahpahaman justru dengan memperbanyak omong-omong. Terlepas dari kepribadian yang introvert sekalipun tetap saja sebenarnya manusia membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Maka lama kelamaan rumah terasa sebagai tempat kost atau penginapan, dan anggota keluarga merasa sebagai orang asing.
3. Komunikasi yang dimulai dengan persepsinya sendiri karena adanya kecenderungan untuk lebih banyak bicara daripada mendengar.
Ketika kita mulai belajar bicara hal yang paling penting ialah sebanyak mungkin bicara. Tapi kita lupa mengajarkan bahwa ‘belajar mendengar’ itu juga penting. Mendengar juga punya seni bagaimana ia memperhatikan inti berita, mempersepsi dengan baik, merespon dengan tepat. Generasi kita dari masa ke masa lebih banyak belajar bicara daripada mendengar. Sehingga kemampuan untuk menyerap amat lemah. Hal ini terbukti ketika membaca buku, mendengarkan kuliah atau pelajaran dan berdialog tentang pokok pembicaraan yang ilmiah, cenderung lemah daya serapnya bahkan tidak menyukai. Tentulah hal ini sangat mempengaruhi cara berkomunikasi dalam keluarga.
Berikut adalah dampak negatif akibat tidak terjalinnya komunikasi dalam keluarga:
a) Keluarga akan selalu ramai dengan pertengkaran karena kesalahpahaman dalam mencerna sesuatu hal;
b) Hubungan anak dan orang tua cenderung menjauh;
c) Anak akan melakukan hal-hal negatif sebagai cara mencari perhatian;
d) Anak akan kehilangan rasa hormat,takut,bahkan cenderung melawan orangtua;
e) Memicu pertengkaran suami istri karena saling menyalahkan saat anak melakukan kesalahan dan pelanggaran;dan
f) Mencetak anak-anak broken home.
2.3. Akibat Terhadap Pembentukan Pribadi Anak
Pendidikan pertama diperoleh seorang anak dari orang tuanya. Dengan orang tuanyalah seseorang anak memulai interaksi dan komunikasinya.
Komunikasi merupakan hal penting dalam kehidupan individu untuk berinteraksi dengan lingkungannya. “Dalam dunia modern komunikasi bukan saja mendasari interaksi sosial. Teknologi komunikasi telah berkembang pesat begitu rupa sehingga tidak ada satu masyarakatpun yang mampu bertahan tanpa komunikasi.“ Bayi yang baru lahir sekalipun sudah memerlukan komunikasi untuk menyampaikan apa yang ia ingin dan perlukan melalui tangisan. Dengan tangisanlah ia menyampaikan pesan bahwa ia haus, lapar, sakit, ataupun hanya sekedar ingin dibelai oleh ibunya.
Percakapan yang hangat antara anak dan orang tua mempunyai arti dan kebahagiaan yang penting bagi seorang anak. Senyum orang tua jika anak berbuat baik dapat membuat anak termotivasi untuk selalu berbuat baik. Cerita-cerita anak jika didengarkan dengan baik akan menjadikan anak lebih bersikap terbuka dan merasa dirinya dihargai. Penghargaan akan sangat penting artinya bagi seorang anak untuk menumbuhkan sikap percaya diri anak. “Percaya diri merupakan salah satu ciri atau karakteristik utama dari pribadi yang sukses.“
Ada jutaan keluarga yang para anggotanya kelihatan dapat bergaul rukun, tetapi hanya karena menghindari pengungkapan perasaan terbuka dan apa adanya, maka para anggota keluarga tersebut tidak dapat benar-benar saling mengenal satu sama lain. Dengan demikian, mereka tidak bisa mengalami keindahan dari keakraban dan persatuan yang berasal dari komunikasi yang terbuka, jujur dan konstruktif. Bahkan dalam banyak keluarga yang cukup rukun pun sering terjadi kesalah pahaman dan hal yang menyakitkan hati, sehingga kegembiraan dan kepuasan dalam hidup terganggu.
Dari uraian di atas, dapat terlihat betapa pentingnya terciptanya suasana komunikatif dalam keluarga, sehingga anak akan merasa keluarga adalah istana, harta dan puisi yang paling indah. Juga sesuatu yang terpenting dalam hidupnya.
Melihat situasi seperti sekarang ini, di mana setiap orang, termasuk orang tua, seolah membangun dunia sendiri yang terpisah dari orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri. Komunikasi keluarga menjadi “barang mahal dan barang langka” karena masing-masing sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaannya masing-masing. Akhirnya, komunikasi yang tercipta di dalam keluarga, adalah komunikasi yang sifatnya informatif dan superfisial (hanya sebatas permukaan). Misalnya, pemberitahuan agenda kerja ayah hari ini, rapat di kantor, janji bertemu orang, harus presentasi, atau mungkin membicarakan mengenai teman ayah punya pekerjaan baru, si Pak Tiar pergi ke luar negeri, tingkat bunga bank, kurs dollar, situasi politik, kerusuhan yang terjadi di luar daerah, dan lain sebagainya. Sementara ibu membicarakan tentang teman kerja di kantor, rencana bisnis ibu, rencana masak memasak, pertemuan arisan, acara televisi baru, atau membicarakan tentang anak teman ibu yang punya masalah. Anak-anak, punya dunianya sendiri yang sarat dengan keanekaragaman pengalaman dan cerita-cerita seru yang beredar di kalangan teman-teman mereka.
Dalam kepadatan arus informasi yang serba superfisial dan sempitnya “waktu bersama”, membuat hubungan antara orang tua – anak semakin berjarak dan semu. Artinya, hal-hal yang diutarakan dan dikomunikasikan adalah topik umum selayaknya ngobrol dengan orang-orang lainnya. Akibatnya, masing-masing pihak makin sulit mencapai tingkat pemahaman yang dalam dan benar terhadap apa yang dialami, dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan dan dirindukan satu sama lain. Dalam pola hubungan komunikasi seperti ini, tidak heran jika ada orang tua yang kaget melihat anaknya tiba-tiba menunjukkan sikap aneh, seperti tidak mau makan, sulit tidur (insomnia), murung atau prestasinya meluncur drastis. Orang tua merasa selama ini anaknya seperti “tidak ada apa-apa” dan biasa saja. Lebih parah lagi, mereka menyalahkan anak, menyalahkan pihak lain, entah pihak sekolah, guru, atau malah saling menyalahkan antara ayah dengan ibu. Seringkali orang tua lupa, bahwa setiap masalah adalah hasil dari sebuah interaksi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Setiap orang, punya kontribusi dalam mendorong munculnya masalah, termasuk masalah pada anak-anak mereka.
Kenakalan remaja dan perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh anggota keluarga juga tidak lain adalah pengaruh komunikasi dalam keluarga. Ada seorang anak yang suka melakukan tindakan anarkis, setelah diselidiki ternyata yang ia inginkan hanyalah kasih sayang dari kedua orang tuanya.


BAB III
PENUTUP
3.1. Penutup
Jika dikatakan komunikasi adalah ruh-nya keluarga, hal ini dapat dibenarkan sejauh komunikasi dilakukan secara kontinu dan dipelihara dengan baik. Komunikasi bukan secara otomatis memberi kontribusi bagi kesuksesan keluarga. Yang pasti komunikasi dapat menjadi terapi untuk terbangunnya kepribadian yang sehat. Tapi sebaliknya buruknya komunikasi antar anggota keluarga menimbulkan banyak masalah yang berkaitan dengan jati diri seseorang dan sosialisasi dirinya. Kalau keluarga masih dipercaya sebagai institusi yang sangat berpengaruh bagi pembentukan pribadi maka rusaknya komunikasi dalam keluarga pastilah menghancurkan potensi kesuksesan seseorang. Terutama masa depan anak.
Selama ini, anak-anak tidak pernah merasakan kehangatan komunikasi dalam keluarga sehingga untuk membuat kedua orang tuanya perhatian, dia berbuat anarkis. Sungguh memilukan. Ada juga kasus lain, seorang istri tega berselingkuh dengan teman kerjanya. Setelah diteliti, ternyata komunikasi dalam keluarganya sangat buruk.
Dia memiliki suami yang tidak perhatian dan anak-anak yang tidak menurut. Itu sebabnya, untuk mengalihkan pikirannya dari berbagai masalah tersebut, dia memilih selingkuh. Bayangkan, begitu besarnya pengaruh komunikasi terhadap keharmonisan keluarga. Karena komunikasi, keluarga bisa hancur. Karena komunikasi pula, keluarga bisa harmonis. Semuanya hanya karena masalah komunikasi.
3.2. Saran
Sebagian orang masih melihat dan memandang komunikasi sebelah mata saja. Sebenarnya, tidak terjalinnya komunikasi yang baik akan melahirkan berbagai permasalahan besar yang akan meruntuhkan kerajaan kecil yang bernama keluarga. Komunikasi yang baik antar individu bisa membuat kehidupan keluarga lebih berarti hingga mencapai titik kesuksesan: bukan hanya anggota keluarga akan serasi tapi bisa mengantarkan anak berprestasi.

Daftar Rujukan
http://www.glorianet.org/index.php/manati/1044-keluarga
http://klikinformasi.blogspot.com/2009/02/problem-komunikasi-dalam-keluarga.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s