Tokoh-tokoh Besar Indonesia Berdarah Madura

ABDUL HADI WM

“Tokoh FIlsafat Indonesia”

abdu-hadi-wm

Abdul Hadi adalah salah satu sastrawan, budayawan dan ahli filsafat Indonesia yang banyak menelorkan karya-karya yang bernafaskan sufistik.

Abdul Hadi dilahirkan pada tanggal 24 Juni 1946 di kota Sumenep, Madura. Merupakan keturunan saudagar Tionghoa yang hijrah dan menetap di Sumenep. Ayahnya, K. Abu Muthar adalah seorang tokoh agama terkemuka di Sumenep, beliau memiliki sebuah pesantren An-Naba’, selain itu, orang tua Hadi juga mengajar Bahasa Jerman. Sedangkan ibunya adalah RA. Martiya seorang putri Keraton Solo.

Masa-masa kecil Hadi adalah masa yang sangat berpengaruh dalam kehidupan pribadinya, terutama dalam pembentukan karakter dirinya sebagai seorang sastarawan. Semasa kecil, Hadi suka menulis puisi, bukan hanya itu saja, Hadi dikenalkan pada berbagai buku bacaan dari para pemikir-pemikir besar, sebut saja buku karangan Imam Ghazali, Plato, dll.

Setamat SMP di kota kelahirannya, Hadi melanjutkan ke SMA bagian sastra di Surabaya. Kemudian meneruskan ke Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1965-1967), lalu pindah ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama (1968-1971), ia beralih lagi ke Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung (1971-1973) tapi tidak tamat karena bertemu dengan seorang gadis yang sampai meluluhkan hatinya, kemudian Hadi menikah dan harus bekerja untuk menghidupi keluarganya, pada tahun 1973-1974 Hadi mengikuti International Writing Program di University of Lowa Amerika Serikat, dan di Hamburg, Jerman untuk mendalami sastra dan filsafat. Tahun 1996 Abdul Hadi meraih gelar Master (MA) dan Doktor (Ph.D) dari Universiti Sains Malaysia, dengan disertasinya “Estetika Sastra Sufistik: Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-karya Syaikh Hamzah Fansuri” dan pada saat yang bersamaan menjadi penulis tamu dan pengajar Sastra Islam di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan di Unversiti Sains Malaysia.

Sepulangnya dari Malaysia tahun 1997, Prof. Dr. Nurcholis Madjid yang dikenal sebagai cendikiawan muslim memintanya untuk bersedia menjadi tenaga pengajar tetap di Universitas Paramadina yang kebetulan Nurcholis Sendiri pendirinya, beliau pun menyanggupinya. Selain itu ia diminta untuk mengajar Sastra Islam di Fakultas Sastra pada Jurusan Sastra Indonesia, Univeritas Indonesia, dosen pascasarjana di Unversitas Muhammadiyah, Jakarta dan The Islamic College for Advanced Studies (ICAS) di Jakarta.

Semenjak menjadi mahasiswa, Hadi mulai terlibat dalam dunia jurnalistik. Hadi pernah menjadi redaktur Gema Mahasiswa terbitan Universitas Gadjah Mada tahun 1967-1968, redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Tengah di Yogyakarta pada tahun 1969-1970, redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat di Bandung tahun 1971-1973, redaktur pelaksana majalah Budaya Jaya tahun 1977, pengasuh lembaran kebudayaan “Dialog”Harian Berita Buana tahun 1978, redaktur majalah Kamar Dagang dan Industri Indonesia tahun 1979-1981, editor Balai Pustaka dan redaktur jurnal kebudayan Ulumul Qur’an pada tahun 1981-1983,  tahun 1982 IA dilantik sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Staf Ahli Bagian Pernaskahan Perusahaan Negara Balai Pustaka, dan Ketua Harian Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta pada tahun1984–1990. Ketika reformasi bergulir, dalam pemilu multi partai 1999, Hadi maju menjadi kandidat wakil daerah wilayah pemilihan Jawa Timur dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pimpinan Dr. H. Hamzah Haz. Dalam pemilu itu, Hadi tidak terpilih sebagai wakil rakyat di Senayan, periode 1999-2004. Anggota Lembaga Sensor Film pada tahun 2000, menjabat sebagai Ketua Majelis Kebudayaan Muhammadiyah, Dewan Pakar Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan anggota Dewan Penasehat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI).

Sebagai seorang sastrawan dan pemikir kebudayaan, bersama dengan rekan-rekannya: Taufik ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar dan Leon Agusta, mendirikan “Sastrawan Masuk Sekolah,” Sastrawan bicara siswa bertanya, yang merupakan program majalah Horison yang berada dibawah naungan Departemen Pendidikan Nasional dan Yayasan Indonesia dengan bekerjasama dengan Ford Foundation. Ia bersama rekan-rekannya mendirikan “Sastrawan Masuk Sekolah” sebagai upaya meningkatkan sastra dan kekreatifitasan para siswa semenjak dini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s