Tokoh-tokoh Besar Indonesia Berdarah Madura

MIEN AHMAD RIFAI

“Bapak Ahli Jamur Indonesia”

MIEN AHMAD RIFAI

Sekilas tidak ada yang istimewa dari sosok pria kelahiran Sumenep, 1 Januari 1940 ini. Namun siapa sangka,  suami dari Nurul Hayati ini, semasa aktif di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang taksonomi tumbuhan, telah menemukan lebih dari 100 jenis tumbuhan baru. Diapun menambahkan nama Rifai dibelakang nama tumbuhan yang ditemukan. Seperti Cryptocarya rifai nama ilmiah dari kayu medang, dan jamur Peziza rifai. Meskipun demikian, dari semua jenis tumbuhan baru yang ia temukan tidak satupun jenis tanaman baru itu ditemukan di tanah kelahirannya, Madura.

Mien memulai pendidikan tertingginya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Bogor, Jawa Barat setelah ia menamatkan SMA nya tahun 1958. Namun, dua hari di Universitas Indonesia, Mien kemudian pindah ke Akademi Pertanian di Ciawi jurusan penyakit tanaman dengan spesialisasi pengendalian hama oleh jamur, ia memilih pindah ke salah satu Universitas di Ciawi sebagai wadah untuk mengembangkan diri dalam dunia tumbuhan. Selama tiga tahun bergelut didunia tumbuhan pada saat aktif di Akademi Pertanian, mengantarkan Mien mendapatkan gelar sarjana muda.

Selulus dari Ciawi Mien menjabat sebagai asisten di Herbarium Bogoriense tahun 1962, setahun kemudian ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Sheffield, Inggris. Prestasinya memuncak di dunia Internasional dalam bidang jamur ketika pria yang menulis buku “Manusia Madura” ini, melakukan riset untuk keperluan tesis atas masternya. Ia meneliti daur hidup sekelompok jamur, yakni jamur tanah Trichoderma.

Dalam ilmu pengetahuan internasional, saat itu jamur Trichoderma dikenal hanya ada satu jenis saja. Tapi Mien dengan riset yang dilakukannya bisa membuktikan ada sekitar 50 jenis jamur itu. Dunia mikologi pun terguncang oleh penelitian yang dilakukan Mien. Sehingga sistem klasifikasi jamur Trichoderma direvisi secara besar-besaran. Riset yang dilakukan Mien ini terbilang sangat luar biasa dan langka didunia penelitian. Penelitian ini terjadi sekitar tahun 1964, sebelum DNA dikenal oleh dunia sebagai alat identifikasi.

Penemuan Mien tentang jamur membuat ia menjadi kiblat bagi para ilmuan lainnya, jika ada yang ingin melakukan riset tentang jamur, ia yang dipercaya untuk menjadi narasumbernya utama. Setelah mendapatkan gelar Ph.D tahun 1967, Mien kembali ke Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s