Tokoh-tokoh Besar Indonesia Berdarah Madura

RADEN PANJI MOHAMMAD NOER

“Gubernur Abadi Jawa Timur”

M. NoerRaden Panji Mochammad Noer lahir di Kampung Beler, Desa Rong Tengah, Kabupaten Sampang, pada tanggal 13 Januari 1918. Mochammad Noer adalah putra ke tujuh dari 12 bersaudara yang dilahirkan dari pasangan Raden Aria Condropratikto dengan Raden Ayu Siti Nursiah yang kedua-duanya masih merupakan keturunan bangsawan Madura.

Pak Noer, begitu panggilan akrabnya, mengawali jenjang pendidikannya di HIS (Hindia Inlandse School) pada tahun 1932, kemudian melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) tahun 1936, dan yang terakhir di Sekolah Pamong Praja (MOSVIA) di Magelang pada tahun 1939.

Abdi rakyat ini mulai merintis karirnya menjadi Pangreh Prajanya (Pamong Praja) tahun 1939-1949 di Kantor Bupati Kabupaten Sumenep hingga menjadi orang nomor satu di Jawa Timur. Semenjak mengabdikan diri kepada bangsa, telah banyak negara yang ia kunjungi untuk dibandingkan dengan Indonesia, Ia pun berspekulasi bahwa tidak ada negara yang se-kaya dan se-besar Indonesia dengan rakyatnya yang masih miskin. Rupanya inilah yang menjadi batu pijakan sekaligus cita-cita besarnya untuk membuat rakyat kecil bisa sejahtera yang kemudian ia aplikasikan ketika menjadi Gubernur Jawa Timur.

Menjadi keturunan bangsawan yang dibesarkan dilingkungan bangsawan pula, tidak menjadi penghalang bagi Mochammad Noer untuk mendekatkan diri terhadap masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Terbukti, pada saat menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur dalam dua periode (1967-1976), selama 20 hari beliau mendedikasikan hidupnya bersama masyarakat kecil di desa dan selama 10 hari bertugas di kantornya. Ia ingin selalu dekat dengan rakyat, karena ingin tahu apa yang dirasakan, apa yang menjadi kebutuhan, dan apa keinginan rakyatnya. “Saya berorientasi ke desa karena saya abdi rakyat”. Kata pria yang hobi berenang ini.

Tak heran, Jawa Timur yang dulunya stagnasi dalam pertumbuhan ekonomi dan masuk daerah termiskin didunia, menjadi salah satu kawasan ekonomi terpenting di kawasan Indonesia Timur dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 8% setiap tahun.

Geliat perekonomian Jawa Timur yang terus tumbuh dan akhirnya bertengger pada posisi 8% setiap tahun yang berlanjut hingga tahun 80-an tidak lepas dari tiga program kerja yang menjadi agenda utama. Pertama: meningkatkan kewibawaan dan martabat aparatur dikantor gubernuran, kedua: memupuk sikap kegotong-royongan, dan ketiga: pembangunan ekonomi yang produktif serta tidak bersifat mercusuar dan berorientasi pada rakyat didaerah minus dan terisolasi.

Gebrakan demi gebrakan yang sangat inovatif telah dilakukan Pak Noer demi memacu pertumbuhan ekonomi yang kemudian berdampak besar dalam kesejahteraan masyarakat. Hal ini bisa kita lihat pada saat REPELITA I digulirkan, Pak Noer mencanangkan 3P, yaitu Pendidikan, Pangan, dan Perhubungan. Karena dengan pendidikan masyarakat yang dulunya melek huruf bisa pintar, dengan kecukupan pangan masyarakat bisa sejahtera, dan dengan perhubungan maksudnya mengembangkan daerah terpencil yang sulit dijangkau dengan dibangunnya akses jalan.

Sehingga pada tanggal 21 Agustus 1974, Pak Noer mewakili masyarakat Jawa Timur menerima penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha dari Pemerintah Republik Indonesia, karena Jawa Timur yang dipimpinnya dinyatakan sebagai Propinsi terbaik dalam melaksanakan pembangunan. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur atas nama rakyat Jawa Timur di Surabaya.

Pak Noer memang kebanggaan masyarakat Jawa Timur, khususnya masyarakat Madura. Kiprah dan pemikirannya semasa hidup banyak memberikan sumbangsih dalam pembangunan Jawa Timur. Ide yang sangat fenomenal dan dinilai terlalu obsesif oleh banyak kalangan ialah pembangunan Jembatan Suramadu. Jembatan terpanjang pertama di Asia Tenggara, yang menghubungkan Pulau Madura dengan Pulau Jawa. Ide ini lahir pada saat menjabat sebagai Patih Bangkalan tahun 1950. Saat itu, beliau memperkirakan akan terjadinya kemacetan di Surabaya. Ia pun memberikan gagasan agar Kamal menjadi kota satelitnya Surabaya, yang pada saat itu akses Surabaya-Kamal masih dimonopoli oleh moda transportasi PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) dan hanya dibuka pada siang hari dari jam 06.00-18.00 WIB. Maka, ketika menjadi gubernur, akses menuju Surabaya tidak lagi melalui Kamal ke Ujung yang berada di pangkalan TNI Angkatan Laut, tetapi Kamal-Ujung yang sudah dipindah keluar area TNI AL, agar bisa diakses 24 jam dan monopoli PJKA dihapus, terbuka untuk semua pengusaha angkutan, melihat mobilitas masyarakat Madura terus meningkat setiap tahunnya.

Meskipun akses menuju Surabaya telah diubah dan beroperasi 24 jam, hal itu belum memuaskan Pak Noer, karena melihat pertumbuhan perekonomian Madura masih dibawah daerah-daerah lain khususnya di Jawa Tumur sendiri. Ide pembangunan Jembatan Suramadu pun beliau hidupkan kembali, sampai-sampai mengatakan “Kalau jembatan ini (Suramadu) tidak jadi dibangun, saya akan berenang dari kamal ke Ujung”. Ia mengajukan dua konsep dalam pembangunan Jembatan Suramadu. (1) Pelaksanaan pembangunan harus ditender secara internasional dan terbuka, (2) Kalau Jembatan Suramadu sudah selesai, nanti akan dibangun jalan tol dan di Madura akan ada kawasan industri serta bandar udara yang sudah tentu memerlukan tenaga-tenaga terdidik. Sehingga tidak akan terjadi transmigrasi penduduk berkepanjangan pada masyarakat Madura.

Akhirnya pada tanggal 20 Agustus 2003, Presiden Megawati mewujudkan impian Pak Noer. Megawati menancapkan tiang pancang sebagai awal dari proses pembangunan Jembatan Suramadu dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Presiden Nomor 79 Tahun 2003 tentang Pembangunan Jembatan Suramadu. Dan saat ini, Jembatan prestisius seharga Rp 4,5 Triliun hasil dari ide besarnya untuk mensejahterakan masyarakat Jawa Timur, khususnya masyarakat Madura sudah selesai dibangun yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 10 Juni 2009. Dan beliau mendapat kehormatan untuk menyeberang pertama kali pada saat peresmiannya.

Kiprah dan sepak terjang mantan Duta Besar RI untuk Perancis tahun 1976-1980, tidak berhenti disini saja. Meskipun tidak lagi memegang kendali dalam pemerintahan, beliau tidak pernah berhenti berpikir dan berkarya untuk “membuat wong cilik biso minggo kemuyu”. pada tahun 1981-1988 ia dipercaya untuk menjabat sebagai anggota Dewan Petimbangan Agung (DPA) periode I dan II, anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional tahun 1989-1997, pada tahun 1985-2010 Pak Noer menjadi Ketua Yayasan Aji Dharma Bhakti yang bergerak dalam bidang sosial pendidikan (Pemberian Beasiswa), tahun 1989-2010 menjadi Dewan Penyantun Universitas Negeri dan Swasta di Surabaya, Jember dan Madura, dan pada tahun 2005-2010 Pak Noer diangkat sebagai anggota Dewan Kurator Universitas Al-Zaitun, dan masih banyak lagi dedikasi beliau dalam mensejahterakan masyarakat dengan keaktifannya diberbagai yayasan. Namun, Jumat, 16 April 2010 Pak Noer dipanggil oleh yang Maha Kuasa dalam usia 92 tahun. Beliau sempat dirawat di Ruang ICU, RS. Darmo Surabaya selama beberapa hari. Jenazahnya kemudian dikebumikan di Somor Kompah, Kabupaten Sampang, Kota Kelahirannya sendiri.

Sederet prestasi yang berbuah penghargaan telah beliau raih dalam kiprahnya ikut serta membangun bangsa semasa hidupnya, seperti Bintang Gerilya, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana Penegak, Bintang Yalasena, Tanda Kehormatan Bhayangkara, Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama III, Odre National Du Merite (Grand Officer) dari Pemerintah Perancis, Tanda Penghargaan Lencana Melati dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Satya Lencana Kebaktian Sosial, Manggala Karya Kencana dari BKKBN, Tanda Penghargaan dari Menteri Pemuda & Olah Raga, Tanda penghargaan dari Menteri Keuangan “Pembayar Pajak Penghasilan Perorangan”, Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia, dan yang terakhir Tanda Penghargaan Rektor Universitas Airlangga “Widya Airlangga Kencana” pada tahun 1993 atas jasanya ikut memajukan dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Kemasyarakatan dan Kebudayaan.

Satu penghargaan lagi yang paling berharga dari masyarakat Jawa Timur, Pak Noer dinisbatkan sabagai gubernur sepanjang masa, sedangkan gubernur-gubernur setelahnya, tidak lain hanya “sekadar penggantinya.” Pak Noer adalah salah satu dari beberapa tokoh besar yang dimiliki Indonesia. Kita patut berbangga dan berterima kasih atas jasa-jasanya, serta menjadikan semangatnya yang ingin menjadi orang berguna dengan terus berpikir dan berkarya yang tak kenal menyerah sebagai acuan bagi seluruh lapisan masyarakat terutama pemimpin masa depan serta sebagai simbol keberhasilan masa depan. Selamat jalan Sang Gubernur Abadi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s