Tokoh-tokoh Besar Indonesia Berdarah Madura

SYAIKHONA MUHAMMAD KHOLIL BANGKALAN

“Pencetak Ulama-ulama Besar Tanah Air”

Kholil

Seorang Ulama Besar yang dikenal mandiri, hemat dan tidak mau merepotkan kedua orang tuanya pada saat pengembaraannya menuntut ilmu di pesantren.

K.H. Muhammad Kholil lahir di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1252 H. atau 27 Januari 1835 M. Seorang pemuda berdarah Ulama, dan masih memiliki garis keturunan Sunan Gunung Jati dari nasab ayahnya K.H. Abd. Lathif yang merupakan seorang tokoh agama terkemuka di Madura.

Jiwa seorang Ulama Besar sudah terpancar pada saat beliau masih muda. Sehingga memiliki tanda-tanda kewalian, karomah serta bakat yang sangat luar biasa dibanding pemuda seusianya. Khalil muda mampu menaklukkan ilmu fikih dan ilmu nahwu dengan hafal Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab) dengan baik, juga hafal Al Quran dalam Qira’at Sab’ah (Tujuh cara membaca Al Quran).

Seiring bertambahnya usia, dan kematangan berpikir serta semakin sadar akan pencarian jatidirinya, sekitar tahun 1850-an, Kholil muda memulai perkelanaannya untuk menuntut ilmu di pulau seberang. Lebih tepatnya di Pesantren Langitan, Tuban, yang diasuh oleh Kiai Muhammad Nur. Karena kehausannya menuntut ilmu, Kholil muda kemudian melanjutkan untuk berguru kepada Kiai Asyik di Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Dari sini pindah lagi ke Pesantren Darussalam Keboncandi, Pasuruan yang diasuh oleh Kiai Arif. Selama di Keboncandi, Beliau nyambi menjadi buruh batik untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Tidak puas menempa diri di tiga pesantren yang telah diarungi, maka selama di Keboncandi juga menyempatkan diri  belajar kepada Kiai Nur Hasan yang merupakan keluarganya sendiri di Sidogiri yang jaraknya antara Keboncandi ke Sidogiri sekitar 7 kilometer.

Meskipun harus ditempuh dengan jalan kaki setiap harinya. Tidak pernah mematahkan semangatnya untuk memperdalam ilmu agama, karena tekadnya untuk memperdalam ilmu agama sudah merupakan kewajibannya dan sudah tertancap kuat dalam tekad yang membara. Ada pembelajaran menarik di setiap perjalanannya antara Banyuwangi-Sidogiri, ia tidak pernah lupa untuk membaca surah Yaasin hingga dihatamkannya berkali-kali, ternyata istilah time is knowledge ia pergunakan, ia tidak pernah menyianyiakan waktu sedikitpun sehingga ulama-ulama besar tanah air lahir dari tempaan tangannya.

Saat itu, belajar ke tanah suci Makkah merupakan impian semua santri, termasuk Kholil. Beliau pun menyiasatinya dengan menjadi buruh pemetik kelapa. Untuk setiap pohonnya, ia mendapatkan upah 2,5 sen. Uang yang diperolehnya tidak serta merta ia gunakan pada hal-hal yang tidak berguna, tapi uang dari jerih payahnya itu ditabung. Sedangkan untuk keperluan sehari-hari seperti makan, disiasati dengan mengisi bak mandi, mencuci, serta menjadi juru masak teman-temannya, dari situlah kebutuhan sehari-harinya tercukupi.

Di usianya  yang ke 24 tahun, cita-citanya yang ingin menimba ilmu di tanah suci Makkah terwujud, beliau berangkat ke tanah suci Makkah dengan uang simpanannya sendiri sewaktu nyantri di Banyuwangi. Kebiasaan hidup prihatin berlanjut pada saat menimba ilmu di negeri orang. Untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari beliau tidak pernah meminta kiriman dari tanah air. Kholil banyak menulis risalah dan menyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar, Beliau juga memanfaatkan keahliannya menulis khat (kaligrafi) yang kemudian dijual. Dari situlah bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup di tanah Arab.

Di Makkah Kholil mengabdikan dirinya kepada ulama-ulama besar dari berbagai madzhab, tapi dari madzhab-madzhab yang ada, lebih cenderung pada ulama yang bermadzhab Syafi’i, yang diajarkan di Masjidil Haram. Seperti Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dhimyathi, Syaikh Ahmad Khatib Sambas Ibnu Abdul Ghofar, Syaikh Ali Rahbini, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syaikh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-Makki, dan Syaikh Abdul Hamid bin Mahmud asy-Syarwani. Sedangkan teman seangkatannya yang dari tanah air: Syaikh Nawawi al-Bantani (berasal dari Banten), Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (berasal dari Minangkabau), dan Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani (berasal dari Padang).

Setelah merasa cukup ilmu yang didapatkan sewaktu belajar di Makkah, beliau kembali ketanah air  untuk  mengamalkan ilmunya dengan mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkebuan, jaraknya sekitar 1 kilometer arah barat laut dari desa kelahirannya. Banyak santri dari desa sekitar yang berdatangan untuk menimba ilmu kepadanya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah disunting oleh Kiai Muntaha yang merupakan keponakannya sendiri, pesantren yang telah didirikan, beliau serahkan kepada menantunya. Selanjutnya mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, sekitar 1 kilometer dari pesantren terdahulu.

Di pesantren yang baru ini K.H. M. Kholil tidak sulit mendapatkan santri baru, kali ini santri yang ingin menimba ilmu bukan hanya dari warga sekitar, tapi dari berbagai daerah. Seperti, K.H. Hasyim Asy’ari (Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama), K.H. Wahab Hasbullah (Pendiri Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang dan insiator berdirinya Nahdlatul Ulama), K.H Bisri Syamsuri (Pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang), K.H. Ma’sum (Pendiri Pondok Pesantren Lasem, Rembang), K.H. Bisri Mustafa (Pendiri Pondok Pesantren Rembang), K.H. Zainal Mun’im (pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo), K.H Abi Sujak (pendiri Pondok Pesantren Asta Tinggi, Kebun Agung, Sumenep), K.H. R. As’ad Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo), K.H. Munawwir (pendiri Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta), dan Ir. Soekarno (Presiden RI Pertama).

Berdirinya Nahdlatul Ulama

Berbicara tentang Nahdlatul Ulama (NU) kita harus berbicara tentang K.H. M. Kholil, karena kiprahnya dalam melahirkan NU tidak dapat diragukan lagi. Meskipun beliau bukan tokoh sentral dari NU, karena tokoh sentral tersebut tetap berada pada K.H. Hasyim Asy’ari, tapi beliaulah penentu berdirinya organisasi terbesar di Indonesia ini. Bermula dari keresahan batin yang melanda K.H. Hasyim Asy’ari. Keresahan ini muncul ketika K.H. Wahab Hasbullah menemui beliau untuk meminta saran dan nasehatnya dalam menindaklanjuti ide mendirikan sebuah jamiyah bagi para ulama Aslussunnah Waljamaah. Dimana ide ini dicetuskan pertama kali pada forum  Tasywirul Afkar  yang berarti “potret pemikiran” yang didirikan oleh K.H. Wahab Hasbullah pada tahun 1924 di Surabaya. Namun, K.H. Hasyim Asy’ari tidak serta merta merestui dan langsung memutuskan untuk mendirikan jamiyah ini, beliau masih melakukan shalat istikharah untuk memohon petunjuk kepada Allah dan meminta restu kepada para Kiai sepuh lainnya.

Nampaknya, kebimbangan yang melanda batin K.H. Hasyim Asy’ari dalam kegamangannya untuk mendirikan sebuah jamiyah terbaca oleh K.H. M. Kholil. Karena tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan yang berkepanjangan, beliau pun memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin.

“Tolong antarkan tongkat ini kepada K.H. Hasyim Asy’ari di Tebuireng,” dengan diselimuti kegembiraan yang mendalam dihatinya karena telah di percaya oleh gurunya untuk mengantarkan sebuah tongkat kepada salah seorang ulama besar dan merupakan sesepuh para Kiai di Pulau Jawa, dengan penuh rasa tanggung jawab yang besar dan rasa ta’dzim pada gurunya, As’ad menerima tongkat itu. “Setelah tongkat ini kamu berikan kepadanya, bacakanlah Surah Thaha ayat 17-23. Yang artinya kurang lebih seperti ini:

Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ”ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.”

Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.”

Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”

K.H. M. Kholil memberikan dua keping uang logam kepada As’ad sebagai bekal dalam perjalanannya ke Tebuireng, Jombang. Tapi, meskipun dibekali uang oleh gurunya, As’ad lebih memilih jalan kaki. Dua keping uang logam ia simpan sebagai kenang-kenangan. Baginya, uang pemberian gurunya itu teramat berharga untuk dibelanjakan.

Sesampainya di kediaman K.H. Hasyim Asy’ari, As’ad langsung memberikan tongkat itu seraya  menyampaikan pesan gurunya, “Kiai, saya diutus oleh Syaikhona Kholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad,  pemuda berusia sekitar 27 tahun itu, sambil mengeluarkan sebuah tongkat untuk diserahkannya. Dengan penuh perasaan, K.H. Hasyim Asy’ari menerima tongkat itu. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Syaikhona Kholil?” tanya K.H. Hasyim Asy’ari. “Ada Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.

Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan oleh As’ad, hati K.H. Hasyim Asy’ari bergetar. Beliau pun merenungkan kandungannya, dan menangkap isyarat bahwa gurunya, Syaikhona Kholil tidak keberatan apabila ia dan K.H. Wahab Hasbullah beserta para Kiai lainnya mendirikan sebuah jamiyah. Sejak saat itu, keinginannya untuk mendirikan jamiyah semakin dimatangkan.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, setahun pun berlalu. Namun, jamiyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. “Tongkat Musa” yang diberikan gurunya itu tidak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya berguna bagi umat manusia.

Sampai suatu hari pemuda As’ad muncul lagi di kediaman K.H. Hasyim Asy’ari. “Kiai, saya diutus oleh Syaikhona Kholil untuk menyerahkan tasbih ini, dan Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar dan Ya Qahhar” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh K.H. M. Kholil itu merupakan isyarat agar muridnya, K.H. Hasyim Asy’ari lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.

Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad K.H. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan jamiyah semakin mantap. Meski demikian, sampai gurunya K.H. M. Kholil meninggal, jamiyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Desember 1926, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).

K.H. M. Kholil wafat dalam usia yang sangat lanjut, 90 tahun, pada tanggal 29 Ramadhan 1343 H (1925 M). Di tanah air, beliau dikenal sebagai pakar dari ilmu fikih dan nahwu. Beliau juga disebut sebagai bapak spritual NU karena ulama besar asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama). Beliau berhasil menggabungkan fikih dengan tarekat yang kemudian ia padukan dalam mendidik santri-santrinya.

Banyak warisan semasa hidupnya: turut mengembangkan pendidikan pesantren sebagai pendidikan alternatif bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat biasa, yang pada saat itu hanya golongan priyayi saja yang diperbolehkan belajar oleh Kompeni Belanda. K.H. M. Kholil juga punya fenomena tersendiri, beliau adalah salah seorang tokoh pengembang pesantren nusantara. Sebagian besar pesantren memiliki sanad (sambungan) dengan para murid-muridnya, yang tentu saja memiliki kesinambungan dengan K.H. M. Kholil Bangkalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s